
Eduttrend.id-Surakarta, Rabu, 10 Maret 2026, suasana belajar di kelas 4B SD Muhammadiyah 19 Kemlayan Surakarta terasa berbeda dari biasanya. Sejak pagi, para siswa sudah tampak bersemangat mengikuti pelajaran matematika. Pada hari itu, pembelajaran dipandu oleh wali kelas sekaligus guru yang mengajar, yaitu Ibu Winda Juniarsih. Beliau menyiapkan pembelajaran yang menarik dengan menggunakan IFP (Interactive Flat Panel) sebagai media belajar. Teknologi ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh siswa.
Pelajaran matematika yang dipelajari pada hari itu adalah materi perkalian. Bagi sebagian siswa, matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Namun melalui penggunaan IFP, Bu Winda Juniarsih berusaha mengubah pandangan tersebut. Tujuannya adalah agar siswa dapat belajar matematika dengan cara yang lebih menyenangkan dan tidak merasa terbebani.
Sebelum pembelajaran dimulai, Bu Winda Juniarsih terlebih dahulu menjelaskan aturan permainan yang akan dilakukan kepada siswa kelas 4B. Agar kegiatan lebih seru dan menumbuhkan kerja sama, siswa kelas 4B SD Muhammadiyah 19 Kemlayan Surakarta dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa siswa yang bekerja sama untuk menyelesaikan soal-soal perkalian yang ditampilkan di layar IFP. Keempat kelompok tersebut duduk bersama dengan anggota kelompoknya masing-masing sambil menyiapkan strategi untuk memenangkan permainan.
Suasana kelas langsung berubah menjadi sangat hidup. Anak-anak terlihat sangat antusias ketika Bu Winda mulai menampilkan soal-soal perkalian di layar IFP yang besar dan jelas. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk maju ke depan kelas dan menjawab soal secara langsung dengan menyentuh layar. Cara ini membuat siswa merasa seperti sedang bermain permainan edukatif, bukan sekadar mengerjakan soal matematika di buku tulis.

Ketika salah satu kelompok maju ke depan kelas, teman-teman yang lain memberikan dukungan dengan penuh semangat. Mereka saling menyemangati anggota kelompoknya agar dapat menjawab dengan benar. Tawa dan sorakan terdengar di dalam kelas setiap kali ada kelompok yang berhasil menjawab soal dengan cepat dan tepat. Suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan penuh semangat.
Permainan ini dirancang dengan sistem poin. Setiap jawaban yang benar akan mendapatkan nilai untuk kelompok tersebut. Hal ini membuat setiap kelompok semakin bersemangat untuk menjadi juara. Anak-anak berdiskusi dengan teman kelompoknya sebelum menjawab soal, sehingga kegiatan ini juga melatih kerja sama, komunikasi, dan kekompakan antar siswa.
Penggunaan IFP membuat pembelajaran menjadi lebih menarik karena soal-soal ditampilkan dengan gambar dan animasi yang berwarna-warni. Selain itu, siswa juga dapat langsung menuliskan jawabannya di layar menggunakan fitur sentuh. Hal ini membuat mereka merasa lebih terlibat dalam proses belajar dan lebih fokus dalam menyelesaikan soal.

Salah satu hal yang terlihat jelas dalam kegiatan tersebut adalah semangat belajar siswa yang meningkat. Anak-anak yang biasanya merasa ragu ketika pelajaran matematika kini tampak lebih percaya diri. Mereka berani mencoba menjawab soal dan tidak takut jika jawabannya salah. Bu Winda Juniarsih juga memberikan motivasi dan apresiasi kepada setiap kelompok yang berusaha dengan baik.
Selain meningkatkan semangat belajar, kegiatan ini juga membantu siswa memahami konsep perkalian dengan lebih mudah. Dengan latihan soal yang disajikan dalam bentuk permainan, siswa dapat mengingat hasil perkalian dengan lebih cepat. Mereka belajar sambil bermain, sehingga proses belajar terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Selama permainan berlangsung, keempat kelompok menunjukkan usaha terbaik mereka. Ada kelompok yang menjawab dengan sangat cepat, ada pula yang berdiskusi terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Semua kelompok berusaha keras mengumpulkan poin sebanyak mungkin agar bisa menjadi pemenang dalam permainan tersebut.
Ketika permainan hampir selesai, suasana kelas semakin seru. Setiap kelompok menunggu dengan penuh harapan ketika Bu Winda Juniarsih menghitung total poin yang telah diperoleh masing-masing kelompok. Anak-anak tampak penasaran ingin mengetahui kelompok mana yang akan menjadi juara pada permainan hari itu.
Akhirnya, Bu Winda Juniarsih mengumumkan kelompok yang memperoleh poin tertinggi. Seluruh siswa kelas 4B SD Muhammadiyah 19 Kemlayan Surakarta memberikan tepuk tangan meriah kepada kelompok pemenang. Namun Bu Winda juga menekankan bahwa yang terpenting bukan hanya kemenangan, tetapi semangat belajar, kerja sama, dan keberanian mencoba yang telah mereka tunjukkan selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan belajar menggunakan IFP pada hari itu memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi siswa kelas 4B. Mereka tidak hanya belajar tentang perkalian, tetapi juga belajar bekerja sama, berani mencoba, dan saling mendukung satu sama lain.
Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka merasa lebih senang belajar matematika dengan cara seperti ini. Mereka merasa matematika tidak lagi menakutkan, tetapi justru menjadi pelajaran yang seru dan menyenangkan. Dengan adanya permainan dan teknologi interaktif seperti IFP, belajar menjadi kegiatan yang lebih menarik dan dinanti-nantikan oleh siswa.
Bu Winda Juniarsih berharap kegiatan pembelajaran seperti ini dapat terus dilakukan dalam pembelajaran berikutnya di SD Muhammadiyah 19 Kemlayan Surakarta. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran yang modern, proses belajar dapat menjadi lebih efektif, kreatif, dan menyenangkan bagi siswa.
Melalui pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, siswa dapat membangun rasa percaya diri dalam mempelajari matematika. Mereka akan menyadari bahwa matematika sebenarnya tidak sesulit yang mereka bayangkan. Dengan latihan yang cukup dan cara belajar yang tepat, matematika dapat menjadi pelajaran yang mudah dipahami.
Pengalaman belajar pada hari Rabu, 10 Maret 2026 tersebut menjadi salah satu momen yang menyenangkan bagi siswa kelas 4B SD Muhammadiyah 19 Kemlayan Surakarta. Mereka belajar dengan penuh semangat, saling bekerja sama, dan menikmati setiap prosesnya.
Pada akhirnya, kegiatan pembelajaran ini berhasil mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu membuat siswa lebih tertarik dengan pelajaran matematika. Melalui penggunaan IFP dan metode permainan kelompok yang dipandu oleh Ibu Winda Juniarsih, matematika terasa lebih hidup, lebih menarik, dan tentu saja lebih menyenangkan.
Dengan cara belajar seperti ini, siswa tidak lagi merasa takut menghadapi pelajaran matematika. Sebaliknya, mereka justru menantikan pelajaran berikutnya dengan penuh semangat. Matematika pun menjadi pelajaran yang lebih asik, menyenangkan, dan tidak menakutkan lagi bagi siswa kelas 4B SD Muhammadiyah 19 Kemlayan Surakarta.
