
Edutrend.id, Semarang — Transformasi pembelajaran di tingkat sekolah dasar terus mengalami perkembangan, seiring dengan tuntutan penerapan kurikulum yang menekankan pada keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu bentuk implementasi nyata dari perubahan tersebut terlihat dalam pelaksanaan asesmen psikomotorik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SD Muhammadiyah Plus Semarang.
Di tengah pergeseran paradigma pendidikan dari teacher-centered menuju student-centered learning, asesmen tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep secara langsung. Melalui kegiatan praktik di kelas, siswa kelas VI tampak melakukan demonstrasi sederhana yang mengintegrasikan konsep energi, gerak, dan interaksi benda menggunakan alat peraga yang tersedia.
Guru IPAS SD Muhammadiyah Plus Semarang, Nur Utami menjelaskan bahwa asesmen psikomotorik menjadi bagian penting dalam mengukur kompetensi siswa secara utuh. “Pembelajaran IPAS saat ini menuntut siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menunjukkan keterampilan melalui praktik. Ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan yang menekankan pembelajaran bermakna,” ujarnya.
Pelaksanaan asesmen ini juga mencerminkan upaya sekolah dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, di mana keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki siswa. Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya melakukan percobaan, tetapi juga menjelaskan proses dan hasil pengamatan secara sistematis di depan kelas.
Namun demikian, transformasi pembelajaran seperti ini belum sepenuhnya merata di berbagai satuan pendidikan. Keterbatasan fasilitas, kurangnya pelatihan guru, serta minimnya dukungan terhadap pembelajaran berbasis praktik masih menjadi kendala di sejumlah sekolah. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan dalam implementasi pembelajaran inovatif di tingkat nasional.
Seorang praktisi pendidikan, Abdul Mu’ti menilai bahwa asesmen psikomotorik merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi memerlukan dukungan sistemik. “Transformasi pembelajaran tidak cukup hanya pada level kebijakan. Diperlukan kesiapan infrastruktur, peningkatan kompetensi guru, serta dukungan lingkungan belajar yang kondusif,” ungkapnya.
Dari sisi siswa, Fahri Ulil Amri mengungkapkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan menarik. “Kami jadi lebih paham karena bisa langsung mencoba, bukan hanya mendengarkan penjelasan,” ujar salah satu siswa kelas VI.
Melalui implementasi asesmen psikomotorik dalam pembelajaran IPAS, SD Muhammadiyah Plus Semarang menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari ruang kelas dengan pendekatan yang inovatif dan berorientasi pada kompetensi. Upaya ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Penulis: Indah Susi Irianti
