Edutrend.id, Surakarta – Berbagai inovasi yang dikembangkan mahasiswa penerima Beasiswa Desamind 5.0 menunjukkan bagaimana generasi muda mampu menghadirkan solusi atas beragam persoalan di desa melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Untuk memastikan setiap inisiatif dapat berkembang secara berkelanjutan, Desamind Indonesia menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 secara daring pada Sabtu (25/7).
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pendampingan yang tidak hanya berfungsi mengevaluasi perkembangan program, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi para awardee untuk memperkuat strategi implementasi, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta menyusun langkah pengembangan agar manfaat program dapat terus dirasakan masyarakat.
President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menjelaskan bahwa Beasiswa Desamind dirancang untuk melahirkan pemimpin muda yang mampu membangun perubahan melalui aksi nyata di masyarakat, bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan kepada mahasiswa.
“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.
Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi, para awardee mempresentasikan perkembangan program yang telah dijalankan di berbagai daerah. Penilaian dilakukan oleh tiga panelis, yakni Ahmad Zamzami selaku Vice Director of Public Relations Division Desamind, Mohammad Rifli Mubarak selaku Climate & Sustainability Researcher ECADIN, serta Anggun S. Rahmi selaku Associate Scholarship Division Desamind. Evaluasi difokuskan pada kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan program, tingkat partisipasi masyarakat, efektivitas penggunaan sumber daya, inovasi, potensi keberlanjutan, hingga peluang pengembangan kemitraan.

Gambar 1. Para panelis memberikan masukan dan evaluasi terhadap perkembangan program pemberdayaan masyarakat yang dipresentasikan oleh awardee Beasiswa Desamind 5.0.
Menurut Mohammad Rifli Mubarak, berbagai program yang dipresentasikan menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam memahami kebutuhan masyarakat dan mengembangkan solusi yang relevan. Ia menekankan pentingnya memperkuat strategi keberlanjutan agar manfaat program tetap dirasakan setelah masa pendampingan berakhir.
“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.
Berbagai inovasi yang dipresentasikan memperlihatkan beragam pendekatan dalam menjawab persoalan desa. Aprila Kusuma Dewi mengembangkan PEPAYA CHIPSY di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pepaya melalui pengolahan menjadi keripik dan penguatan kapasitas usaha masyarakat. Di bidang pendidikan, Wawan Sulaeman menghadirkan Sekolah Nusantara di Kabupaten Subang untuk meningkatkan pemahaman anak mengenai kesehatan reproduksi dan perlindungan diri melalui pendekatan edukatif yang sesuai dengan usia peserta.
Sementara itu, Bayu Hardito memperkenalkan MAGGOVATE (Maggot Innovation for Sustainable Village) sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular di Desa Bringkang dengan memanfaatkan budidaya maggot yang mulai didukung teknologi Internet of Things (IoT). Inovasi lain dikembangkan oleh Ruhillah Khadijah El Basri melalui Duck Value Enhancement yang berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui inovasi produk dan strategi pemasaran. Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai media edukasi kesehatan sekaligus peluang usaha berbasis produk herbal.
Selama proses evaluasi, para panelis memberikan berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas program, mulai dari penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan strategi keberlanjutan, hingga perluasan kolaborasi dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, dan sektor swasta. Para awardee juga didorong memperkuat dokumentasi, publikasi, serta pengukuran dampak sosial sebagai bentuk akuntabilitas pelaksanaan program.
Diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan ruang berbagi pengalaman antarpeserta mengenai tantangan dan strategi implementasi program di lapangan. Proses tersebut menjadi sarana pembelajaran bersama yang memperkaya perspektif sekaligus meningkatkan kualitas pelaksanaan program di masing-masing wilayah.

Gambar 2. Awardee Beasiswa Desamind 5.0 bersama panelis dan tim Desamind Indonesia berfoto bersama setelah pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi II sebagai bagian dari proses pendampingan dan penguatan kapasitas.
Melalui Monitoring dan Evaluasi II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia terus memperkuat pendampingan bagi para awardee agar setiap inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap implementasi, tetapi mampu tumbuh menjadi solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat. Beragam program yang dipresentasikan menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, generasi muda memiliki potensi besar untuk menghadirkan inovasi yang kontekstual, berdampak, dan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan.
Author: Kiki Irafa Candra
Editor: Alan Ferdiansyah/Zamzami
