Pendidikan Berkemajuan Mengasah Power Skills

Main Sufanti

Dosen Prodi PBSI, MPBI, PBIPD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

            Istilah  “berkemajuan”  akhir-akhir ini sangat  populer di lingkungan organisasi Muhammadiyah. Sebenarnya istilah ini secara substansi sudah muncul sejak lahirnya Muhammadiyah. Namun, istilah ini menjadi sangat populer  setelah terbit buku  Risalah Islam Berkemajuan dan Risalah Perempuan Berkemajuan. Dua risalah ini merupakan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2022 di Surakarta.

            Istilah “berkemajuan” selanjutnya  menjadi tema dalam berbagai karya atau kegiatan dan bersanding dengan kata lain. Setidaknya, pada sampul muka majalah Tabligh edisi Agustus 2026 terpampang istilah: lentera berkemajuan, Islam berkemajuan,  dan Indonesia berkemajuan.

            Istilah “berkemajuan” juga disandingkan dengan kata “pendidikan”. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Webinar Series yang ke-61 pada  Juli 2026 dengan tema “Transformasi Pendidikan Berkemajuan di Era Artificial Intelligence: Membangun Generasi Berkarakter, Berilmu, dan Berdaya Saing Global”. Nara sumber pada webinar ini adalah Prof. Suyanto, M.Ed.,Ph.D. yang saat ini mengemban amanah sebagai Dewan Pakar Majlis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah.

            Pendidikan Berkemajuan juga menjadi salah satu mata kuliah wajib  di PPG (Pendidikan Profesi Guru) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  UMS. Mata kuliah ini  dikembangkan oleh Program Studi PPG FKIP UMS sebagai salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa PPG Calon Guru dengan bobot 2 SKS.

Implementasi Pendidikan Berkemajuan

 Salah satu konsep pendidikan berkemajuan adalah pendidikan berkemajuan bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan ikhtiar untuk menjadikan manusia mampu menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi (Wahdan Najib Habiby,2026). Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan teknologi, tetapi menghasilkan manusia yang sadar akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengelola bumi.

Dengan demikian, pendidikan harus ditujukan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kesadaran yang tinggi bahwa dirinya adalah pengelola bumi ini yang harus memiliki berbagai kemampuan, baik  berupa  hard skills maupun power skills. Hard skills berupa kemampuan akademis yang  biasa dipelajari untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Adapun power skills merupakan kemampuan pribadi dan sosial yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan semua kemampuan seseorang sehingga sukses dalam kehidupan.

Banyak sekali power skills yang perlu diasah dalam pendidikan supaya lulusannya menjadi generasi  pengelola bumi yang tangguh dalam rangka menghadapi dunia yang penuh gejolak, penuh tantangan, berubah-ubah, dan tidak ada kepastian ini. Power skills utama  dalam perspektif pendidikan berkemajuan adalah bertauhid. Pendidikan harus mengasah kemampuan peserta didik dalam meyakini Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah dan satu-satunya sumber kekuatan.

Bertuhid akan menggerakkan karakter-karakter yang positif pada peserta didik. Jika peserta didik bertauhidnya baik, maka dia akan menjadi orang yang bertaqwa. Ketaqwaan ini  mewujud dalam perilaku amal sholeh sehari-hari, misalnya: rajin beribadah, memiliki tanggung jawab, disiplin, komitmen, peduli, toleransi, dan seterusnya.

Selain itu, pendidikan berkemajuan perlu diimplementasikan dengan mengasah power skills yang saat ini sangat dibutuhkan  yaitu power skills yang tidak bisa digantikan AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan, atau ada yang menyebutnya dengan akal imitasi. Power skills ini antara lain: berpikir kritis, berpikir analitis, kreatif, inovatif, mengatasi masalah, adaptif, tangguh, rasa ingin tahu, kepemimpinan, empati, komunikatif, kolaboratif,   dan kemampuan digital.   Dengan demikian, dalam perspektif pendidikan berkemajuan, pendidikan merupakan ihtiar untuk menyadarkan manusia sebagai kholifah di muka bumi. Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup mengasah hard skills, tetapi juga harus mengasah power skills peserta didik, sehingga lulusannya betul-betul dapat mengelola bumi ini dengan baik. Mari bergandeng tangan mewujudkan cita-cita ini. Kita harus yakin dengan slogan “ada kemauan pasti ada kemampuan”.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *