
DENPASAR — Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa, mulai dari mencari ide, memahami materi, hingga membantu menyusun berbagai kebutuhan akademik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab baru. Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) BIM University pada Selasa (15/9/2026).
Melalui materi mengenai etika penggunaan Generative AI (GenAI) dalam perkuliahan, mahasiswa baru BIM University diajak memahami bahwa AI seharusnya digunakan sebagai mitra belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir dan tanggung jawab akademik mahasiswa.
Materi pembekalan memperkenalkan mahasiswa pada perkembangan AI serta perubahan yang dibawanya dalam dunia pendidikan. Kehadiran teknologi generatif membuat akses terhadap informasi menjadi semakin cepat, sementara berbagai pekerjaan berbasis output seperti penulisan, presentasi, analisis awal, hingga coding dapat dilakukan dengan bantuan AI.
Di sisi lain, kemudahan tersebut menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih kuat. Jawaban yang diberikan AI tidak selalu benar karena dapat mengandung kesalahan fakta, bias, informasi yang tidak sesuai konteks, bahkan referensi yang tidak benar-benar ada. Karena itu, setiap informasi yang diperoleh melalui AI perlu diperiksa kembali menggunakan sumber yang dapat dipercaya.
Dalam pembekalan tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada batas pemanfaatan AI dalam kegiatan akademik. AI dapat digunakan untuk membantu proses seperti melakukan brainstorming, menyusun kerangka awal, membuat pertanyaan belajar, memberikan umpan balik terhadap draf, maupun membantu memahami konsep yang sulit. Namun, mahasiswa tetap harus mengembangkan gagasan, melakukan analisis, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap hasil akhirnya.
Aspek integritas akademik menjadi salah satu perhatian utama. Mahasiswa diingatkan agar tidak menyerahkan keluaran AI secara mentah sebagai karya pribadi, membuat data atau referensi fiktif, maupun menggunakan teknologi untuk menyamarkan plagiarisme. Karya akademik tetap harus mencerminkan proses berpikir, riset, serta keputusan mahasiswa sendiri.
Selain persoalan akademik, penggunaan AI juga memiliki risiko terhadap keamanan dan privasi data. Mahasiswa diminta tidak memasukkan informasi pribadi, dokumen internal kampus, data akademik mahasiswa lain, maupun data penelitian yang belum dipublikasikan ke layanan AI publik. Penggunaan data secara anonim dan seperlunya menjadi salah satu langkah yang ditekankan untuk mengurangi risiko kebocoran informasi.
Transparansi juga menjadi bagian penting dalam penggunaan AI. Apabila penggunaan AI diperbolehkan atau diwajibkan dalam suatu tugas, mahasiswa perlu menjelaskan aplikasi yang digunakan, fungsi AI dalam proses pengerjaan, serta memastikan seluruh hasil telah ditinjau, diedit, dan divalidasi secara mandiri.
Dalam penerapannya, aturan penggunaan AI dapat berbeda pada setiap mata kuliah. Mahasiswa perlu membaca ketentuan dalam silabus dan mengikuti instruksi dosen, karena terdapat tugas yang memperbolehkan penggunaan AI dengan pengakuan, memerlukan izin sebelumnya, hingga tugas yang sepenuhnya melarang penggunaan AI karena bertujuan mengukur kemampuan mandiri mahasiswa.
Melalui pembekalan ini, mahasiswa baru BIM University diharapkan tidak hanya mampu menggunakan teknologi AI, tetapi juga memahami kapan teknologi tersebut layak digunakan dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.
Pesan utama yang dibawa dalam materi tersebut adalah bahwa AI dapat membantu mempercepat proses belajar, tetapi kendali atas nalar, nilai, keputusan, dan tanggung jawab tetap berada di tangan mahasiswa.