
Komitmen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam memberikan kontribusi bagi pemberdayaan masyarakat diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan pengelolaan kelas bagi lanjut usia. Tim Pengabdian UMS yang diketuai Ratnasari Dyah Utami, M.Pd., M.Si., berkolaborasi dengan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Colomadu menyelenggarakan pelatihan Pengelolaan Kelas Green Senior School (GSS).
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat (25/9/2026) di Ruang Siti Badilah Lantai 1, Perpustakaan Kampus 2 UMS. Pelatihan diikuti 36 peserta yang terdiri atas jajaran pengurus ‘Aisyiyah, pengelola sekolah lansia, dan kader pendamping GSS.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Pengabdian UMS membawa semangat melalui tagline “Sehat, Bahagia, Mandiri, dan Islami”. Tagline tersebut menjadi landasan dalam membangun pola pendampingan lansia yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis, sosial, kemandirian, dan kehidupan keagamaan.

Ketua Tim Pengabdian UMS sekaligus narasumber utama, Ratnasari Dyah Utami, M.Pd., M.Si., menyampaikan materi mengenai Pengelolaan Kelas Lansia Berbasis Pemberdayaan. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan sekolah lansia membutuhkan pendekatan yang komprehensif agar peserta dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suasana yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Lansia tidak hanya membutuhkan perhatian dari aspek fisik semata, tetapi juga penguatan mental, sosial, serta keagamaan agar mereka tetap sehat, berdaya, dan bahagia di usia senja,” jelas Ratnasari.
Menurutnya, kelas lansia perlu dirancang sebagai ruang belajar sekaligus ruang interaksi sosial. Lingkungan belajar yang ramah dan inklusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta untuk tetap aktif, berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kemandirian.

“Pengelolaan kelas yang baik akan menciptakan rasa nyaman dan saling menghargai. Dengan demikian, proses belajar dan bersosialisasi antarpeserta lansia dapat berlangsung secara menyenangkan serta memberikan dampak positif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis mereka,” tambahnya.
Pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi dan diskusi interaktif. Para peserta diajak mengidentifikasi berbagai dinamika yang muncul dalam pendampingan lansia sekaligus menyusun strategi pengelolaan kelas yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Dalam sesi tersebut, kader juga didorong untuk mengembangkan tata kelola GSS yang adaptif dan berkelanjutan. Berbagai aktivitas sekolah lansia, seperti pemeriksaan kesehatan, senam kebugaran, bimbingan keagamaan dan ibadah, serta kegiatan interaksi sosial, diharapkan dapat dikelola secara terencana sehingga memberikan manfaat yang berkesinambungan bagi para peserta.
Perwakilan pengurus PCA Colomadu, Ibu Ani Mumtazmahal, mengapresiasi kolaborasi antara UMS dan ‘Aisyiyah dalam penguatan program GSS. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi pengurus serta kader dalam mengelola kegiatan sekolah lansia.
“Melalui tagline Sehat, Bahagia, Mandiri, dan Islami, kita ingin memastikan para lansia senantiasa sehat fisiknya, bahagia batinnya, mandiri dalam beraktivitas, serta teguh menjalankan ibadah sesuai tuntunan Islam,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan diskusi, penyusunan rencana tindak lanjut, dan doa bersama. Rencana tindak lanjut tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pengurus dan kader dalam mengimplementasikan hasil pelatihan pada kegiatan GSS di tingkat ranting maupun cabang.
Tim Pengabdian UMS yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Ratnasari Dyah Utami, M.Pd., M.Si. sebagai ketua, bersama Dwi Linna Suswardany, S.KM., M.PH., Dr. Laili Etika Rahmawati, S.Pd., M.Pd., Hasyim Asy’ari, S.T., M.T., Fitriana Mustikaningrum, S.Gz., M.Sc., serta Dwi Rosella Komalasari, Ftr., M.Fis., Sp. Vest., PhD (PT).
Kolaborasi UMS dan PCA Colomadu melalui program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan model pemberdayaan lansia yang lebih terarah dan berkelanjutan. Melalui pengelolaan kelas yang ramah, partisipatif, dan inklusif, Green Senior School diharapkan tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi lansia, tetapi juga menjadi wadah untuk menjaga kesehatan, memperkuat kemandirian, membangun relasi sosial, serta meningkatkan kualitas kehidupan spiritual para senior di tengah masyarakat.