Pendidikan Literasi IT dengan Pendekatan Deep Learning dan Bernilai Humanis

Banga Philipine, 21 Agustus 2025. Hakikat pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia dan untuk memartabatkan kehidupan. Nilai-nilai itulah yang menjadi penting dalam proses dan keluaran pendidikan. Pendidikan tanpa nilai, ibarat pohon tanpa buah, ibarat patung tak berfungsi, adanya seperti tiadanya. Demikian pesan kuat yang disampaikan oleh Prof. Harun Joko Prayitno sebagai ketua Tim pelaksana Program Pendidikan Untuk Semua (PPUS) di hadapan guru dan siswa Sekolah Menengah di Banga pada Rabu 20 Agustus 2025 kemarin.

Proses dan kemasan pendidikan sifatnya holistik dan komprehensif. Menjadi kesatuan utuh antara kompetensi dan kecakapan untuk hidup, kecakapan untuk kehidupan, kecakapan untuk penghidupan, dan keterampilan untuk berkehidupan bermasyarakat. Di dalamnya perlu daya adaptasi yang luwes yang dengan secara sadar mampu menumbuhkan semangat keingintahuan siswa secara menggembirakan. Senang untuk mengetahui sesuatu menjadi energi dan pondasi utama untuk berkompetensi di bidangnya.

Informasi Teknologi (IT) di jenjang sekolah menengah bisa menjadi aspek ihwal yang diajarkan, sekaligus bisa menjadi metode sarana pembelajara, dan sekaligus bisa menjadi tujuan dan dampak serta manfaat bagi siswa. Inilah pentingnya pemanfaatan IT dalam pembelajaran yang tetap bernilai humanitas dan berkesadaran.

Oleh karena itu, pendidikan IT di sekolah menengah tidak boleh berhenti hanya pada tataran keterampilan teknis seperti mengoperasikan perangkat lunak atau menggunakan gawai semata yang hanya bersifat sederhana. Literasi yang sejati adalah literasi yang membentuk kesadaran kritis, kemampuan memilah dan memilih informasi, serta kecakapan untuk menggunakan teknologi dalam kerangka pengembangan diri dan kemanusiaan. Literasi IT harus mampu menumbuhkan daya berpikir reflektif, kolaboratif, dan kreatif sehingga siswa tidak sekadar menjadi pengguna pasif, melainkan menjadi pencipta dan pengembang yang berkontribusi bagi masyarakat yang memiliki nilai guna.

Pendekatan deep learning dalam literasi IT hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman tersebut. Deep learning tidak hanya dipahami sebagai istilah dalam dunia kecerdasan buatan, tetapi juga sebagai paradigma dalam pendidikan yang menekankan pembelajaran bermakna, mendalam, dan kontekstual. Dengan pendekatan ini, siswa tidak sekadar menerima pengetahuan secara dangkal, melainkan mengolah, menghubungkan, dan menginternalisasikan pengetahuan hingga melahirkan pemahaman yang kokoh. Dalam konteks IT, deep learning membantu siswa membangun keterampilan analisis, problem solving, hingga literasi etis dalam menghadapi arus informasi digital yang deras. Pendekatan ini juga harus bernilai humanis. Humanis dapat diartikan bersifat manusiasi. Artinya pendekatan deep learning harus dapat berfokus pada kepentingan serta kesejahteraan manusia.

Dengan demikian, kecanggihan teknologi tidak boleh menjauhkan pendidikan dari nilai-nilai humanis. Justru sebaliknya, pendidikan literasi IT perlu diletakkan dalam kerangka humanisme agar teknologi tidak mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Teknologi harus diposisikan sebagai alat untuk memperkuat solidaritas, memperluas akses keadilan pendidikan, dan membangun kepedulian sosial. Dengan cara ini, siswa bukan hanya cakap dalam mengelola data, algoritma, atau program, melainkan juga memiliki empati, tanggung jawab, dan kepekaan sosial yang kuat.

Maka, pendidikan literasi IT yang berorientasi deep learning dan bernilai humanis menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi dunia pendidikan. Literasi ini akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijak; tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk memuliakan kehidupan. Dengan demikian, pendidikan benar-benar kembali pada hakikatnya: memanusiakan manusia sekaligus memartabatkan peradaban.

Penulis: Eko Purnomo

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *