Pendidikan Seksual Inklusif, Mahasiswa UMS Gaungkan Hak Remaja Disabilitas

Edeutrend- Pendidikan seksual di Indonesia masih terjebak dalam bayang-bayang stigma. Topik ini kerap dianggap tabu, bahkan di lingkungan pendidikan, sehingga banyak remaja tumbuh tanpa pengetahuan memadai tentang tubuh, kesehatan reproduksi, dan batasan diri. Kondisi ini jauh lebih berat bagi penyandang disabilitas, khususnya tunagrahita, yang membutuhkan pendekatan khusus untuk memahami informasi penting tersebut.

Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melihat kenyataan ini sebagai panggilan untuk bertindak. Dipimpin oleh Nur Ramadhan Azizun Hakim (Akuntansi), bersama Muhammad Latif Fazlullah Liansah (Akuntansi), Salmalia Hera Dewinta (Akuntansi), Aisyah Aditya Wulandari (Pendidikan Teknik Informatika), dan Nasya Najwa Anabella Firdausy (Ilmu Hukum), mereka mengembangkan program Multimodal Interactive Learning: Edukasi Seksual Adaptif Menggunakan Interactive Visual Card Berbasis COM-B di bawah bimbingan Dwi Linna Suswardany, S.KM., M.PH.

Program ini tidak sekadar memberikan informasi, tetapi merancang pengalaman belajar yang inklusif dan interaktif. Melalui Interactive Visual Cards kartu bergambar dengan kombinasi warna, ilustrasi, dan cerita, materi disampaikan secara sederhana, aman, dan menarik. Metode ini mengacu pada kerangka COM-B (Capability, Opportunity, Motivation, Behavior) yang diimplementasikan lewat storytelling, permainan peran, reaction cards, hingga pentas seni reflektif.

“Pendidikan seksual adalah tentang menanamkan pemahaman, membentuk perilaku yang aman, dan menumbuhkan rasa saling menghormati. Remaja tunagrahita berhak penuh untuk memahami diri dan melindungi masa depannya,” ungkap Ramadhan selaku Ketua Tim Sabtu (16/8).

Inisiatif ini berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa skema Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) 2025 dari Belmawa Dikti, bersaing dengan 33.039 proposal dari seluruh Indonesia. Namun, bagi tim ini, penghargaan bukan tujuan utama. Misi mereka adalah menghapus tabu yang menghalangi akses informasi dan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelompok yang sering terlupakan.

Lewat langkah ini, mahasiswa UMS berharap generasi muda Indonesia mulai memandang pendidikan seksual bukan sebagai hal yang tabu, melainkan sebagai hak dasar yang harus diakses semua orang — tanpa terkecuali.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *