Edutrend, Karanganyar, 29 Juli 2025 — Sebagai bentuk kontribusi nyata dunia perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, tim dosen melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Pembelajaran di Era VUCA: Pemberdayaan Sekolah melalui Deep Learning dan Pemrograman Scratch” di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Akhlaqul KarimahMojogedang, Kabupaten Karanganyar, Selasa (29/7).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian yang didanai DPPM Kemdiktisaintek yang diketahui oleh Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung penguatan literasi teknologi dan pembelajaran berbasis deep learning di sekolah dasar. Dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), guru dan siswa dituntut untuk adaptif, berpikir kritis, dan mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar-mengajar.
Dalam pelaksanaannya, pengabdi memberikan pelatihan kepada guru-guru MIM AKA Mojogedang mengenai konsep dasar deep learning dalam konteks pendidikan serta praktik pemrograman sederhana menggunakan aplikasi Scratch. Melalui pendekatan ini, guru didorong untuk mengembangkan model pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

“Kami melihat pentingnya sekolah dasar mengenal dan mulai mengintegrasikan teknologi digital ke dalam pembelajaran. Scratch menjadi media yang menyenangkan untuk mengasah logika, kreativitas, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sejak dini,” ujar Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., selaku ketua pelaksana kegiatan.
Pembelajaran ideal seharusnya mengutamakan pendekatan deep learning karena pendekatan ini mampu mengarahkan peserta didik untuk berpikir secara mendalam, kritis, dan reflektif terhadap materi yang dipelajari. Tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan secara permukaan, deep learning menekankan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran melalui pemahaman konsep, analisis hubungan antar gagasan, serta penerapan pengetahuan dalam konteks yang relevan dengan kehidupan nyata.
Dengan mengedepankan deep learning, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan menantang. Selain itu, pembelajaran menjadi berkesan karena siswa mengalami proses belajar yang memicu rasa ingin tahu, mendorong eksplorasi, dan memberi ruang untuk berkreasi serta menemukan makna personal dari apa yang mereka pelajari. Tambah Harun dalam pemaprannya.

Kegiatan ini disambut antusias oleh para guru dan siswa. Kepala MIM AKA Mojogedang, Muhammad Arif, S.Pd.I. selaku kepala sekolah MIM AKA Mojogedang, mengungkapkan rasa terima kasih atas kepedulian akademisi dalam mendukung transformasi pendidikan di madrasah. “Pendampingan seperti ini sangat dibutuhkan agar kami tidak tertinggal dalam menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” ujarnya. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan sekolah mampu mengembangkan budaya pembelajaran inovatif yang tidak hanya fokus pada konten, tetapi juga pada proses berpikir dan penciptaan solusi. Program ini juga membuka ruang kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih adaptif dan transformatif.
