Tekan Ketergantungan Impor Obat, UMS Kembangkan Mikroreaktor Canggih Pembuat Parasetamol

Maria Ulfah, salah anggota peneliti sekaligus mahasiswa S3 Farmasi UMS yang memanfaatkan teknologi mikroreaktor.

Surakarta-Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diketuai oleh Prof. Dr. Muhtadi, M.Si. berhasil merancang dan merekayasa inovasi prototipe micro (flow) reactor untuk produksi bahan baku obat parasetamol. Inovasi ini dikembangkan melalui skema Riset Inovatif Produktif (RISPRO) sebagai langkah nyata mendukung kemandirian farmasi nasional, mengingat sekitar 95 persen kebutuhan bahan baku obat di Indonesia saat ini masih mengandalkan impor.

Menurut Muhtadi, teknologi mikroreaktor ini menawarkan proses sintesis yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan katalis asam oksalat yang mudah terurai (biodegradable) untuk menggantikan asam mineral korosif. “Dengan menggunakan mikroreaktor ini, maka aspek ramah lingkungan menjadi sebuah temuan baru dengan pemanfaatan katalis asam oksalat menggantikan asam mineral korosif” papar Muhtadi ketika dihubungi pada Selasa (13/10). Dalam hal efisiensi waktu, reaktor alir kontinu ini mampu memangkas waktu reaksi pembuat parasetamol secara drastis dari yang biasanya memakan waktu 2–6 jam pada sistem konvensional menjadi hanya 4,0 detik. Hasilnya, laju produksi skala laboratorium mampu mencapai 70,5 gram per jam dengan tingkat kemurnian produk akhir hingga 95 persen.

Keberhasilan riset ini merupakan buah kolaborasi lintas disiplin ilmu yang melibatkan dosen serta mahasiswa dari Fakultas Farmasi, Teknik Elektro, Teknik Mesin, hingga Teknik Kimia UMS. Salah satu anggota peneliti sekaligus mahasiswa S3 Farmasi UMS, Maria Ulfah, mengungkapkan bahwa alat ini menggunakan antarmuka layar sentuh yang berbasis digital. “Mengusung konsep Pharma 4.0, sistem reaktor ini dilengkapi antarmuka layar sentuh HMI (Human-Machine Interface) digital yang memungkinkan pemantauan dan pengoperasian secara nirkabel melalui laptop maupun ponsel” ungkapnya ketika ditemui di laboratorium.   Sebagai wujud perlindungan kekayaan intelektual, tim peneliti UMS telah berhasil mendaftarkan paten sederhana untuk teknologi ini serta menyiapkan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi. Tahapan selanjutnya, tim akan merancang pengulangan unit reaktor (numbering up) untuk mendongkrak kapasitas produksi ke skala kilogram serta menggandeng mitra industri farmasi agar riset ini dapat segera dihilirkan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *