SURAKARTA โ Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini mulai merambah proses kreatif penulisan karya sastra. Menjawab dinamika tersebut, Yayasan Tribuno Svastha Harena bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen menggelar Pelatihan Penulisan Kreatif Berbasis Kearifan Lokal pada Sabtu (22/8/2026) secara virtual.
Kegiatan ini membedah bagaimana teknologi modern seperti AI dapat berkolaborasi secara etis dengan kekayaan tradisi Nusantara untuk melahirkan karya sastra yang inovatif.

Dalam pelatihan ini, akademisi Universitas Bhamada Slawi, Dwi Atmoko, M.Pd., menjelaskan bahwa AI berperan sebagai co-creation tool yang mempercepat proses brainstorming ide, perancangan konflik, hingga eksplorasi sudut pandang penulisan cerpen.
“AI membantu memperluas kemungkinan kreatif, tetapi keputusan makna, emosi, dan pesan budaya mutlak berada di tangan penulis. Penulis tetap memegang tanggung jawab penuh atas orisinalitas naskah,” tegas Dwi Atmoko.

Di sisi lain, narasumber dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr. Ulinnuha Madyananda, S.S., S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa di tengah tren digitalisasi global, kearifan lokal justru menjadi pembeda (unique value) yang membuat karya sastra Indonesia dilirik dunia. Ia mencontohkan sukses novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yang menggabungkan struktur tutur wayang dan realisme magis hingga diterjemahkan ke puluhan bahasa dunia.
Ketua Yayasan, Dr. Tri Santoso, M.Pd., menyampaikan bahwa pemanfaatan AI yang dibarengi riset budaya yang mendalam akan melahirkan generasi kreator literasi yang kritis, produktif, dan berakar kuat pada identitas bangsanya.