Dari Literasi Digital ke Transformasi Pedagogi : Strategi Kritis Penguatan SDM Berbasis AI di MI Muhammadiyah Sidokerto

Edutrend.id, Sragen – MI Muhammadiyah Sidokerto Kabupaten Sragen pada 4 Februari 2026 menyelenggarakan Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai respon terhadap dinamika pendidikan modern. Kegiatan ini menegaskan mengapa transformasi kompetensi SDM berbasis Artificial Intelligence (AI) menjadi kebutuhan mendesak.

Dalam konteks ini, sekolah dasar berbasis keagamaan dituntut untuk tidak hanya mempertahankan nilai, tetapi juga mengintegrasikan teknologi secara kritis dan adaptif. Workshop tersebut diikuti oleh 20 tenaga pendidik yang seluruhnya berkualifikasi S1, sehingga secara formal telah memenuhi standar akademik.

Namun, jika dianalisis lebih dalam, kompetensi formal tidak selalu linier dengan kesiapan digital, terutama dalam menghadapi disrupsi teknologi. Oleh karena itu, pertanyaan siapa yang perlu ditransformasi tidak hanya merujuk pada individu guru, tetapi juga pada sistem berpikir dan budaya kerja kolektif.

Berdasarkan distribusi usia, terdapat 6 guru berusia di atas 50 tahun, 6 guru berusia 40–49 tahun, dan 8 guru di bawah 40 tahun. Data ini menunjukkan adanya kesenjangan generasi yang berimplikasi pada variasi literasi digital dan kesiapan terhadap AI.

Dengan demikian, pendekatan pelatihan tidak dapat diseragamkan, melainkan harus berbasis diferensiasi kebutuhan belajar guru.Suasana Worshop KBC (Dok.Isnaini)Jika dilihat dari foto kegiatan, tampak para guru aktif berdiskusi dalam kelompok kecil dengan memanfaatkan laptop dan perangkat digital. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan kolaboratif dan berbasis praktik langsung.

Secara kritis, ini menjawab bagaimana transformasi dilakukan, yaitu melalui experiential learning yang mendorong partisipasi aktif.Dalam perspektif HOTS (Higher Order Thinking Skills), transformasi ini tidak cukup hanya pada level memahami (C2) atau menerapkan (C3), tetapi harus mencapai analisis (C4), evaluasi (C5), dan kreasi (C6). Guru dituntut mampu menganalisis kebutuhan siswa berbasis data, mengevaluasi efektivitas penggunaan AI, serta menciptakan inovasi pembelajaran yang kontekstual.

Dengan demikian, AI bukan sekadar alat, tetapi menjadi medium transformasi pedagogi.Kepala Madrasah, Isnaini, S.Ag., menegaskan bahwa guru harus adaptif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi agar tetap relevan. Pernyataan ini mengandung makna strategis bahwa perubahan bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan dalam ekosistem pendidikan.

Secara evaluatif, kepemimpinan ini menunjukkan orientasi visioner yang selaras dengan tuntutan global. “Zaman telah berubah, dan generasi yang dihadapi berkembang sesuai zamannya, maka secara individu, guru harus selalu belajar dan adaptif dengan perubahan”, demikian pernyataan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sidokerto dalam sambutanya membuka kegiatan workshop tersebut.

Salah satu peserta workshop Widodo, ketika diminta tanggapannya tentang kegiatan tersebut mengatakan : “yang wajib terus belajar bukan hanya murid, tetapi guru juga harus selalu belajar, sehingga meskipun berganti murid, guru tetap mampu menyesuaikan diri”.

Lebih lanjut, transformasi kompetensi berbasis AI juga menuntut perubahan paradigma dari teacher-centered menjadi learner-centered. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan eksplorasi siswa dengan bantuan teknologi.

Dalam konteks ini, AI dapat digunakan untuk personalisasi pembelajaran, analisis capaian belajar, hingga pengembangan konten interaktif.Namun demikian, terdapat tantangan kritis yang perlu diantisipasi, seperti resistensi perubahan, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan literasi digital.

Oleh karena itu, strategi implementasi harus mencakup pendampingan berkelanjutan, pelatihan berbasis kebutuhan, serta evaluasi berkala. Tanpa pendekatan sistemik, transformasi ini berpotensi menjadi sekadar program seremonial.

Secara komprehensif, dapat disimpulkan bahwa transformasi ini dilakukan oleh guru MI Muhammadiyah Sidokerto, pada 4 Februari 2026, di lingkungan madrasah, dengan tujuan meningkatkan kompetensi berbasis AI, melalui workshop kolaboratif. Lebih dari itu, kegiatan ini mencerminkan upaya strategis dalam menjembatani kesenjangan antara tradisi pendidikan dan inovasi teknologi. Ke depan, keberhasilan transformasi ini sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi dan komitmen seluruh pemangku kepentingan(Isnaini).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *