
Main Sufanti
Dosen Prodi PBSI, MPBI, PBIPD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sukoharjo menyelenggarakan Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah yang berlangsung di Ruang Seminar Dr. H. Syamsudin, Gedung Ahmad Syafi’i Ma’arif, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada Ahad, 21 Juni 2026. Kepanitiaan resepsi ini diamanatkan kepada Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Baki, PCA Gatak, dan PCA Kartasura (PCA Bagasura).
Tema pada resepsi ini adalah “Memperkokoh Dakwah Kemanusian untuk Mewujudkan Perdamaian”. Tema ini menegaskan komitmen ‘Aisyiyah sebagai gerakan dakwah perempuan Islam yang selalu berusaha mewujudkan perdamaian dunia. ‘Aisyiah selalu menghadirkan nilai Islam sebagai rahmatan lil aalamin, menebarkan kasih sayang, menciptakan toleransi, dan melindungi seluruh umat manusia sehingga terwujudlah perdamaian dunia.
Pada resepsi ini, ketua PDA Sukoharjo, Dr. Indiah Dewi Murni, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Hamdan Maghribi, S.TH.I., M.Phil. selaku mubaligah menekankan bahwa dakwah perdamaian ini merupakan implementasi dari Risalah Perempuan Berkemajuan. Berdasarkan dokumen yang dapat diunduh pada link https://aisyiyah.or.id/download/dokumen-risalah-perempuan-berkemajuan/. Risalah Perempuan Berkemajuan merupakan naskah dokumen pandangan ideologis ‘Aisyiyah dan persyarikatan Muhammadiyah tentang perempuan dalam berbagai aspek kehidupannya.
Salah satu topik dalam dokumen ini yang harus menjadi bahan diskusi, sosialisasi, dan segera diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah tujuh karakter perempuan berkemajuan. Ketujuh karakter tersebut meliputi: (1) iman dan takwa, (2) taat beribadah, (3) akhlakul karimah, (4) berpikir tajdid, (5) bersikap wasatiyah, (6) beramaliah salihah, dan (7) bersikap inklusif. Ketujuh karakter tersebut perlu segera dipahami dengan baik oleh seluruh warga ‘Aisyiyah dan diimplementasikan dalam setiap gerak organisasi di semua tingkatan, mulai dari pusat hingga ranting. Targetnya adalah seluruh anggota ‘Aisyiyah memahami, menyadari, dan mengamalkan ketujuh karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Aksi Nyata
Milad ‘Aisyiyah ini tentu tidak hanya ditandai dengan gegap gempita resepsi yang diselenggarakan di berbagai tingkatan organisasi ‘Aisyiyah, tetapi juga harus dijadikan momentum untuk meneguhkan implementasi Risalah Perempuan Berkemajuan melalui aksi-aksi nyata yang berdampak. Berbagai aksi nyata tersebut telah dan akan terus dilaksanakan oleh ‘Aisyiyah sebagai wujud komitmen dalam mengimplementasikan nilai-nilai Risalah Perempuan Berkemajuan.
Pertama, meneguhkan semua anggota ‘Aisyiyah adalah perempuan yang beriman dan bertakwa. Semua aktivitas ‘Aisyiyah menuju kepada terbentuknya kader-kader dan anggota ‘Aisyiyah yang memiliki iman dan takwa kepada Allah. Iman ini mengakar di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan diwujudkan dalam amal sholeh. Aksi nyata ‘Aisyiyah dalam hal ini sudah sangat jelas dengan diadakannya berbagai jenis pengajian, kajian, dan semacamnya.
Salah satu aktivitas yang perlu lebih digalakkan oleh ‘Aisyiyah adalah pemberantasan buta huruf Al-Qur’an. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada saat pengajian, masih banyak ditemukan anggota ‘Aisyiyah yang belum mampu atau belum lancar membaca Al-Qur’an. Kelancaran membaca Al-Qur’an berkorelasi dengan tingkat pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an. Oleh karena itu, setiap ranting ‘Aisyiyah perlu mendata kemampuan membaca Al-Qur’an para anggotanya. Selanjutnya, apabila ditemukan anggota yang belum mampu atau belum lancar membaca Al-Qur’an, ranting ‘Aisyiyah perlu segera membentuk Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) bagi ibu-ibu anggota ‘Aisyiyah serta mengelolanya secara baik dan berkelanjutan.
Kedua, meneguhkan semua anggota ‘Aisyiyah adalah perempuan yang taat beribadah. Perempuan berkemajuan menunjukkan sikap teguh dan konsekuen dalam menunaikan ibadah kepada Allah baik ibadah umum maupun ibadah khusus. Anggota dan kader ‘Aisyiyah perlu memiliki komitmen bahwa semua aktivitasnya dalam rangka beribadah kepada Allah. Jika ditanya selama sehari semalam berapa jam yang digunakan untuk ibadah, maka anggota ‘Aisyiyah harus serentak menjawab: 24 jam semua untuk ibadah. Ini artinya, semua kegiatan diniatkan dalam rangka ibadah.
Ketiga, meneguhkan semua anggota ‘Aisyiyah adalah perempuan yang berakhlak karimah. ‘Aisyiyah merupakan suatu organisasi yang mendorong para anggotanya berakhlak karimah sebagai wujud kesempurnaan iman. Akhlak karimah meliputi kehidupan yang komprehensif yaitu: akhlak secara vertikal (kepada Allah), akhlak secara internal (kepada diri sendiri), dan akhlak secara horizontal (kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan lingkungan hidup).
Keempat, meneguhkan bahwa setiap anggota ‘Aisyiyah adalah perempuan yang berpikir tajdid. ‘Aisyiyah senantiasa mendorong anggotanya untuk berpikir tajdid, yaitu berpikir untuk melakukan pemurnian dengan mengembalikan akidah dan ibadah kepada kemurniannya sesuai dengan Sunnah Nabi saw. Dalam bidang muamalah duniawiah, tajdid berarti mendinamisasikan kehidupan masyarakat dengan semangat kreatif dan inovatif sesuai dengan tuntutan zaman. Melalui cara berpikir tajdid, perempuan berkemajuan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Islam di tengah perkembangan zaman, bersikap inovatif dan reformatif, menghasilkan pemikiran serta penemuan baru, serta mampu melakukan perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, ‘Aisyiyah harus terus meningkatkan berbagai aksi nyata dalam memberantas sikap taklid.
Kelima, meneguhkan semua anggota ‘Aisyiyah adalah perempuan yang mampu bersikap wasatiyah. Dalam konteks perempuan berkemajuan, pola pikir wasatiyah (moderat) adalah pola pikir yang berpegang teguh pada kebenaran, dengan mendasarkan pada keseimbangan antara nilai-nilai agama dan ilmu pengetahuan, bersikap tengahan, tidak cenderung ke arah ekstrim.
Keenam, meneguhkan semua anggota ‘Aisyiah adalah perempuan yang mampu beramal salihah. Perempuan berkemajuan selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik, yang bebas dari unsur keburukan dan kerusakan. Amal salih sebagai perwujudan iman dan ilmu, yang menempatkan seseorang pada kedudukan mulia, memposisikan diri sebagai makhluk yang sempurna, jalan menuju surga, dan terhindar dari kehidupan yang hina dan rendah. Implementasi amal shaleh dalam diri seseorang, melahirkan keshalehan individu yang akan berbuah kepada keshalehan sosial.
Ketujuh, meneguhkan semua anggota ‘Aisyiyah adalah perempuan yang mampu bersikap inklusif. ‘Aisyiyah perlu mensosialisasikan dan menerapkan sikap inklusif yaitu terbuka dengan siapapun dalam relasi sosial yang majemuk. Perbedaan hendaknya menjadikan anggota ‘Aisyiyah terbuka dalam bergaul dan bekerja sama, serta tidak membuat dirinya tertutup atau menutup diri.
Selamat Milad ke-109 ‘Aisyiyah. Upaya ‘Aisyiyah dalam mendorong terwujudnya perempuan-perempuan berkemajuan di tengah berbagai tantangan perlu terus digalakkan. Semoga Allah Swt. memberikan rida kepada seluruh gerakan ‘Aisyiyah serta melimpahkan berkah kepada seluruh amal usaha ‘Aisyiyah. Amin.