Edutrend.id, KLATEN – Pagi itu, suasana di kelas SMK tampak berbeda. Meja-meja tidak lagi dipenuhi dengan buku-buku tebal. Sebaliknya, para siswa menghidupkan laptop dan menatap layar dengan penuh semangat. Barisan kode mulai terlihat, bukan lagi sekadar simbol yang membingungkan, melainkan proyek nyata: aplikasi sederhana untuk mencatat keuangan warung di sekitar sekolah. Guru tidak hanya berbicara di depan kelas, tetapi juga berfungsi sebagai pembimbing, membantu mengatasi masalah yang muncul, serta mendorong siswa untuk menemukan solusi kreatif mereka sendiri.
Inilah wajah baru dalam dunia pendidikan vokasi. Kemampuan coding kini dianggap keterampilan dasar yang harus dikuasai, sebanding dengan kemampuan membaca dan menulis. Bukan hanya bagi jurusan IT, tetapi semua jurusan mulai merasakan keuntungan dari hal ini. Siswa multimedia menciptakan website portofolio, siswa otomasi merancang sistem sensor untuk lampu otomatis, bahkan siswa akuntansi mengembangkan aplikasi pencatatan keuangan yang langsung dapat digunakan. Pendekatan berbasis proyek menjadikan pembelajaran lebih nyata dan berdampak.

Kehadiran kecerdasan buatan (AI) melengkapi perubahan ini. Kita kini berada di era ChatGPT, Midjourney, dan berbagai alat AI lainnya yang dapat mempercepat proses kerja kreatif dan teknis. Di ruang multimedia, siswa memanfaatkan AI untuk membuat desain poster hanya dalam beberapa menit. Di bengkel otomasi, mereka merancang sistem prediksi kerusakan mesin. Terdapat juga yang menggunakan AI untuk menulis skenario video atau menciptakan chatbot sederhana bagi usaha lokal. Yang lebih penting, siswa diajarkan tentang etika penggunaan AI agar mereka tidak hanya menjadi pengguna biasa, tetapi mampu memanfaatkan teknologi dengan bijaksana.
Peran guru sangat penting untuk keberhasilan inovasi ini. Para guru SMK diharuskan untuk “naik level” melalui pelatihan seperti AI for Educators, bootcamp coding, dan kerja sama dengan industri teknologi. Dengan guru yang melek digital, suasana dalam kelas menjadi lebih relevan, menarik, dan siap mengatasi perubahan kebutuhan dunia kerja yang cepat.
Transformasi ini menjadikan SMK tidak hanya sebagai tempat melatih operator, tetapi juga pusat bagi lahirnya kreator digital. Lulusannya memiliki kemampuan menulis kode, mengolah data, memanfaatkan AI, dan mengembangkan inovasi yang dapat bersaing secara global. Mereka bukan hanya siap untuk bekerja, tetapi juga siap untuk menciptakan peluang kerja baru, menjadi bagian dari ekosistem teknologi dunia, dan membawa Indonesia lebih maju di era digital.
Coding dan AI tidak lagi menjadi tambahan, melainkan telah menjadi semangat baru bagi pendidikan vokasi. Ini adalah momentum bagi SMK untuk berkembang, menghasilkan generasi yang tidak hanya mengikuti perkembangan zaman tetapi juga menggali masa depan.
Penulis : Herlina Tri Wulandari (Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan- Universitas Muhammadiyah Surakarta)
