Edutrend, SURAKARTA– Mengubah persepsi bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan menjadi sebuah tantangan di dunia pendidikan. Menjawab tantangan tersebut, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Lentera Zyland dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan sebuah inovasi bernama Zymath AR. Tim PKM-PM ini diketuai oleh Vio Arvendha (Pendidikan Teknik Informatika) dengan anggota Rahadatul Aisy Tsamarah Ilyas (Teknik Informatika), Suryani Elmaghfiroh (Teknik Informatika), Ryani Dewi Nuraini (Psikologi), dan Dhandy Hananthiyo Ardhy Putra (Teknik Informatika), dengan dosen pembimbing Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D.
Aplikasi berbasis Augmented Reality (AR) ini dirancang khusus untuk membuat proses belajar numerasi (hitung susun) menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan mudah dipahami bagi siswa kelas 4, 5, dan 6, khususnya di lingkungan kelas inklusif. Ketua tim PKM-PM Lentera Zyland, Vio Arvendha, menjelaskan bahwa ide ini berawal dari keprihatinan melihat banyak siswa yang merasa jenuh dan kurang termotivasi saat dihadapkan pada soal-soal hitung susun yang monoton.
“Banyak siswa, terutama di era digital ini, merasa metode belajar konvensional kurang menarik. Mereka cepat kehilangan fokus. Kami ingin menjembatani itu dengan teknologi yang sudah akrab dengan mereka,” jelas Vio saat ditemui setelah kegiatan di salah satu ruang kelas inklusif di Surakarta, Selasa (2/9/2025).

Zymath AR bekerja dengan memadukan media fisik berupa flashcard (kartu pintar) dengan aplikasi digital. Ketika kamera ponsel atau tablet diarahkan ke flashcard, objek tiga dimensi, animasi, dan soal-soal kuis yang interaktif akan muncul di layar, seolah-olah hidup di dunia nyata. “Dengan Zymath AR, kami membawa materi dari buku ke dunia digital yang visual. Siswa tidak hanya melihat deretan angka, tetapi mereka bisa berinteraksi langsung. Belajar pun terasa seperti sedang bermain game petualangan,” ujar Vio.
Inovasi ini mendapat dukungan penuh dari dosen pendamping, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tim Lentera Zyland sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. “Inovasi ini adalah contoh cemerlang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk tujuan pedagogis. Penggunaan AR tidak hanya meningkatkan engagement atau keterlibatan siswa, tetapi juga membantu memvisualisasikan konsep matematika yang abstrak, sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa dengan berbagai gaya belajar,” tutur Siti Azizah.
Kegiatan pengabdian ini disambut dengan sangat antusias oleh para siswa. Mereka tampak aktif dan gembira saat mencoba aplikasi dan mengerjakan kuis interaktif yang ada di dalamnya. Tim berharap, Zymath AR dapat terus dikembangkan dan diadopsi lebih luas untuk membantu mengubah cara pandang siswa terhadap matematika.

“Tujuan utama kami adalah mengasah kemampuan literasi dan numerasi siswa dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan dunia mereka,” ungkap salah seorang perwakilan dari tim Lentera Zyland Dhandy. “Kami ingin membuktikan bahwa matematika bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah petualangan yang bisa dijelajahi.” tambahnya
Setelah asyik berinteraksi dengan kartu AR, para siswa tidak langsung selesai. Untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka setelah mengikuti dua sesi pembelajaran tersebut, mereka ditantang untuk mengerjakan kuis interaktif yang tersedia langsung di dalam aplikasi Zymath AR. Fitur ini memungkinkan tim untuk mendapatkan umpan balik instan mengenai efektivitas metode pembelajaran yang mereka terapkan.

Kegiatan ini merupakan implementasi kedua dari seri program yang dijalankan oleh Lentera Zyland, menunjukkan komitmen mereka untuk terus menciptakan inovasi dalam dunia pendidikan, khususnya bagi siswa di kelas inklusif. Melalui perpaduan antara buku dan teknologi AR, belajar hitung susun kini tak lagi monoton, melainkan menjadi sebuah pengalaman imersif yang tak terlupakan bagi para siswa.
