Dari Lingkungan ke AI: Workshop UMS Bekali Guru Biologi se-Jawa Tengah Metode Citizen Science

Edutrend.id, SOLO – Belajar biologi tak lagi melulu di dalam kelas dengan buku tebal. Guru-guru IPA/Biologi se-Solo Raya kini punya cara baru: mengajak siswa keluar kelas, menjelajahi lingkungan sekitar, dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengenali tumbuhan.

Hal ini dipelajari dalam Workshop “Biology Learning Enhanced by Artificial Intelligence” yang digelar Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (20/12/2025).

Acara yang diikuti 16 guru IPA Biologi dari berbagai SMA/SMP negeri dan swasta di Jawa Tengah ini bertujuan membekali pendidik dengan metode citizen science atau sains masyarakat, yang menggabungkan eksplorasi alam dengan teknologi modern.

Dari Lapangan Langsung ke Database Online

Salah satu sorotan utama workshop adalah platform Pelurutaloka (Pembelajaran Luar Ruangan-Tanaman Lokal; www.pelurutaloka.com). Platform berbasis web ini memungkinkan siswa mengamati tumbuhan di sekitar sekolah, mengidentifikasinya dengan bantuan aplikasi AI seperti Google Lens atau PlantNet, dan mengunggah hasil temuan mereka untuk divalidasi ahli.

“Prinsipnya sederhana: amati, pindai, catat, laporkan. Siswa jadi seperti ilmuwan kecil yang kontribusinya nyata untuk ilmu pengetahuan,” jelas Muhammad Luthfi Hidayat, Ph.D., ketua tim Workshop dalam rangka Pengabdian pada Masyarakat sekaligus founder “Pelurutaloka” ini.

Lumut Kerak: Detektor Polusi Alami

Tak hanya tumbuhan besar, workshop juga mengulas peran Lichenes atau lumut kerak sebagai penjaga lingkungan. Dr. Efri Roziaty, peneliti bioindikator polutan, menerangkan bahwa keberadaan lumut kerak bisa menjadi tanda kualitas udara.

“Lichenes sangat sensitif polusi. Jika di suatu area lumut kerak sehat dan beragam, berarti udaranya masih bagus. Ini bisa jadi proyek sederhana dan murah untuk diajarkan ke siswa,” ujarnya. Hal ini langsung memantik diskusi hangat dengan Ibu Eko Setyaningsih, Ketua MGMP Biologi Jateng, tentang penerapannya di sekolah. 

Efri Roziaty juga menghubungkan Lichenes ini dengan topik Citizen Science berbantuan generative AI, bahwa menurutnya potensi pengembangan “pengidentifikasian spesies” berbantuan AI sangat besar, terbukti dengan masih minimnya pengenalan AI terhadap Lichenes yang menjadi objek penelitiannya. “Database tentang Lichenes masih sedikit, sehingga aplikasi Ai untuk mengidentifikasinya masih kurang.” tandasnya.

Guru Langsung Praktek ‘Koding’ dan Jelajah Kampus

Agar tidak hanya teori, para guru diajak langsung praktek. Mereka belajar membuat model AI sederhana untuk membedakan bunga kembang sepatu dan waru menggunakan Teachable Machine, lalu mencoba mengidentifikasi tumbuhan di sekitar kampus FKIP UMS dengan smartphone mereka.

“Sesi praktek ini yang paling seru. Kita jadi paham cara kerjanya dan bisa membayangkan langsung bagaimana menerapkannya dengan siswa,” tutur salah satu peserta.

Respons Peserta: Materi Relevan dan Memberi Inspirasi

Berdasarkan kuesioner, workshop ini mendapat sambuatan sangat positif. Sebanyak 89% peserta memberi nilai baik hingga sangat baik untuk semua aspek. Materi dinilai sangat relevan dengan kebutuhan mengajar di era Kurikulum Merdeka.

“Workshop ini memberi inspirasi metode baru yang kontekstual. Siswa belajar dari lingkungan nyata, sekaligus melek teknologi,” kata Dhinar Dewi Istini, S.Pd., guru SMA Negeri 2 Semarang.

Hanya sedikit catatan tentang pengaturan waktu sesi yang bisa dievaluasi untuk acara serupa di masa depan.

Dengan semangat baru, para guru pulang membawa bekal untuk menghidupkan pelajaran biologi menjadi petualangan sains yang menarik dan aplikatif bagi siswa mereka.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *