
Edutrend.id, Jatipuro – Kegiatan Pengajian Ahad Pagi yang rutin diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jatipuro terus menjadi wadah pembinaan keagamaan bagi masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut berpartisipasi sebagai bagian dari keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan di wilayah setempat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap akhir pekan di Masjid Agung Goro Desa Jatisuko Kecamatan Jatipuro. Kegiatan Pengajian Ahad Pagi merupakan kegiatan rutin yang telah lama berjalan di tengah Masyarakat. Menariknya dalam kegiatan ini terdapat sebuah tradisi yang disebut “Nyoto Bareng”, tradisi ini dilaksanakan sebulan sekali.
Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan kebersamaan antar warga Desa Jatisuko melalui kegiatan makan Bersama setelah pengajian. Selain itu tradisi Nyoto Bareng bertujuan menumbuhkan rasa kekeluargaan, gotong royong, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah Masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi alat pelestarian budaya lokal yang diselaraskan dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga pengajian tidak hanya berperan sebagai tempat pembinaan spiritual, namun juga sebagai ruang interaksi sosial yang sejalan.
Pengajian Ahad pagi di Desa Jatisuko merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap akhir pekan mulai pukul 05.45 WIB sampai dengan Pukul 07.15 WIB, yang diikuti oleh berbagai kalangan Masyarakat, mulai dari orang tua, remaja, dan anak-anak. Setelah rangkaian pengajian selesai warga mengantri di tempat yang sudah disediakan oleh pengurus masjid untuk melanjutkan kegiatan Nyoto Bareng yakni makan soto Bersama. Hidangan sederhana yang disediakan secara sukarela oleh pelaksana kegiatan.

Ketua PCM setempat yaitu Hartanto menyampaikan bahwa tradisi Nyoto Bareng telah menjadi agenda yang selalu dinanti oleh jamaah. “Nyoto Bareng bukan hanya makan bersama, tetapi menjadi momen untuk saling mengenal, mempererat hubungan, dan menjaga kerukunan antar warga, tradisi ini dilaksanakan satu bulan sekali.” ujarnya.
Citra Ayu Fadhilah salah satu mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS Desa Jatipuro 2026, menyatakan bahwa partisipasi mahasiswa dalam acara Pengajian Ahad Pagi serta tradisi Nyoto Bareng memberikan pengalaman berharga untuk memahami kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. “Dalam kegiatan ini, kami sebagai mahasiswa KKN dapat secara langsung mempelajari nilai kebersamaan, gotong royong, serta pentingnya melestarikan tradisi lokal yang sejalan dengan nilai-nilai keislaman,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa tradisi Nyoto Bareng tidak hanya memperkuat ikatan antar warga, tetapi juga menjadi cara yang efektif untuk membangun kedekatan antara mahasiswa KKN dan komunitas lokal. “Lingkungan kekeluargaan yang terbentuk begitu kuat.” Warga menyambut kedatangan kami dengan ramah, sehingga program KKN bisa berlangsung dengan lebih harmonis dan bermakna,” ujarnya.
Nyoto bareng biasanya dilaksanakan satu bulan sekali sebagai agenda khusus, sehingga selalu dinanti oleh Jemaah sekitar. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai budaya lokal yang memperkuat persatuan Masyarakat. Dengan adanya tradisi Nyoto Bareng dalam pengajian Ahad Pagi Desa Jatisuko menunjukkan bagaimana nilai religius dan sosial dapat berpadu harmonis, menciptakan lingkungan Masyarakat yang rukun, guyub, dan penuh kebersamaan.
Melalui kegiatan ini pengajian tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembinaan spiritual, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat persatuan Masyarakat. Tradisi “Nyoto bareng” menjadi bukti bahwa nilai religius dan budaya lokal dapat berpadu secara harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Tim KKN-DIK FKIP UMS Desa Jatipuro 2026 berharap kegiatan ini dapat terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi desa lain dalam mengembangkan kegiatan keagamaan yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Penulis: Shaffira Edna Ekaristi